coba template

Words and Sentences are Inspiration and Motivation

Tuesday, September 20, 2011

Mas, mas, jangan pake emas..

Photo taken by: Ivvan Fardyan

Wah, bulan ini banyak yang nikah ya. Bahagianyaaa. Semakin banyak yang laksanakan sunnah rasul, ibadah penyempurna setengah dien. Ya, menikah adalah ibadah, ibadah paling indah dan paling disukai ummat Rasulullah SAW. Ada sebuah riwayat: "Rasulullah saw. datang dan bertanya: apakah kalian yang mengatakan begini dan begini? Sesungguhnya saya lebih bertakwa dan lebih khusyu' kepada Allah swt. Di bandingkan kalian, akan tetapi saya tetap berpuasa dan saya juga berbuka, saya juga shalat dan istirahat (berbaring), dan saya juga menikahi perempuan, maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku maka dia bukan dari umatku". (Muttafaqun 'alaih, di sepakati oleh Bukhari dan Muslim).

Sayangnya, pernikahan masa kini sepertinya banyak sekali tuntutannya. Selain beberapa hal yang sudah pernah saya bahas di sini, tuntutan lainnya juga mau tak mau muncul dari masyarakat Indonesia yang masih enggan tinggalkan adat istiadatnya. Walaupun sebetulnya, adat istiadat itu bertentangan dengan hukum agama. Well, saya memang tidak ahli untuk urusan fiqih atau yang beginian. Tapi paling tidak, untuk tulisan kali ini, saya merujuk kepada ahlinya, mencari referensi hadits-hadits shohih yang mudah-mudahan bisa menambah khazanah kita tentang fiqih :D

Ada beberapa perkara yang sangat saya sayangkan dalam pernikahan di masyarakat sekitar yang seharusnya berjalan sakral, khidmat, bernilai ibadah di mata Allah, tapi 'terpaksa' dicampur adukkan dengan hal-hal tak perlu, bahkan tak jarang perkara yang kita sudah tau hukumnya haram. Contoh yang umum adalah cincin kawin.

Dalam sebuah pernikahan, tak afdhol rasanya kalau tak ada prosesi pemasangan cincin kawin, bahkan tukeran cincin. Dan sayangnya, cincin yang dipake biasanya emas. Nah, lakilaki pakai emas kan haram. Bukan saya yang bilang, tapi Rasulullah: Dari Abi Musa ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Telah diharamkan memakai sutera dan emas bagi laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi wanitanya.” (HR Turmuzi dengan sanad hasan shahih). Pembahasan komplitnya bisa dibaca sendiri di sini dan sini.

Sayang sekali kan kalau ibadah yang nilainya sama dengan separuh agama harus ternoda nilainya dengan perkara haram. Rugi aja gitu ya rasanya kalo sampai jadi tak berkah, atau berkahnya berkurang akibat suatu hal yang kita sudah tau hukumnya, tapi masih kita laksanakan :( Yah, semoga saja yang sudah terlanjur pake emas di hari akad nikahnya, waktu itu belum tau tentang hukum pakai emas untuk lelaki, dan kalaupun sudah tau, semoga diampuni Allah dan tetep diberkahi pernikahannya. Yang belum akad nikah tapi sudah berencana akan ada prosesi tuker cincin, ayoo coba bujuk lagi orang tuanya dan kasi pengertian ke mereka sekali lagi, oke. Atau, kalopun emang pengen menjadikan itu sekedar sebagai simbol pernikahan, yang lakilaki cincinnya jangan yang terbuat dari emas :D

Selain tukeran cincin, adat lain yang bertentangan dengan syariah Islam adalah prosesi tepung tawar. Kalo tentang ini, sebelum menikah dulu rupanya suami saya *waktu itu masih calon* sudah browsing sana sini. Maklum, kami berdua samasama dari suku melayu yang kalo adakan akad nikah, umumnya orang pake adat tepung tawar atau cucur air mawar. Maka, demi mencegah terjadinya campur aduk sunnah dalam pernikahan kami kala itu, dikasi deh beberapa artikel ini ke keluarga kami:
1. Jangan buat sunnah gado-gado
2. Hukum upacara tepung tawar
3. Video upacara tepung tawar yang ternyata aslinya dari Hindu

Itulah beberapa hal tentang pernikahan yang telah kami jalankan. Alhamdulillaah, ketika akad nikah kami, tak ada prosesi tukeran cincin. Hanya saya yang pake cincin. Bisa liat sendiri di foto di atas kan, tangan suami saya ga pake cincin hehehe. Dan juga, prosesi cucur air mawar yang tadinya keukeuh pengen ibu saya laksanakan, berhasil dicegah dengan bujuk dan rayuan maut calon mempelai pria yang saat ini telah menjadi suami saya :D Alhamdulillaah yaa..

Kami doakan, semoga teman-teman yang dalam waktu dekat berencana menikah, prosesi pernikahannya lancar, bebas dari campur aduk adat istiadat yang dalam syariah Islam hukumnya haram, serta penuh berkah. Pernikahan yang penuh berkah akan membawa berkah pula bagi sekeliling kita, tak hanya untuk kedua mempelai saja, Insha Allaah :)
Read More

Friday, September 16, 2011

Ngeplurk yuk


Dulu, saya mengklaim bahwa saya bukanlah internet user yang social butterfly. Eh? Bukannya saya suka kupukupu? Aaaah, pasti belom baca postingan saya tentang social butterfly deh yaa? Yuk dibaca dulu, skalian supaya tau apa siih social butterfly itu.

Nah, berdasarkan definisi itu, untuk saat ini kayaknya udah boleh deh saya mendapatkan predikat sebagai social butterfly. Yaa, berhubung saya ga punya deadline yang harus diselesaikan selain deadline harian seperti masak untuk suami hehehe. Sekarang ini, alhamdulillaah waktu yang saya punya sangat fleksibel. I manage my own time. No deadline, no feeling guilty of coming late. Karena itulah, mudah sekali bagi saya saat ini untuk berlaku seperti social butterfly. Ah yeeey.

Dalam rangka berekspansi dan meninggalkan jejak nama temanteman di jejaring sosial dunia maya, saya pengen ajak temanteman untuk ngeplurk. Apa pula itu plurk? Beberapa yang sudah lama warawiri di dunia maya barangkali sudah tau jejaring sosial yang penuh dengan emoticon warnawarni ini. Yoih, menurut saya, di situlah letak kelebihan plurk dibanding jejaring sosial lain seperti twitter. Kalo twitter sepertinya lebih mengedepankan autotext. Sedangkan plurk, emoticonnya animated dan lebih meriah.

Mirip twitter, plurk ini juga layanan jejaring sosial dengan fasilitas microblogging. Kita bisa plurking atau bikin thread dengan maksimal 140 karakter. Mirip-mirip twitterlah. Bedanya, kalo di plurk, komen tidak dalam bentuk reply ke user, melainkan bisa langsung tulis di kolom respon. Temanteman bisa liat sebagian contohnya di akun saya: thekupu. Selain emoticon yang membedakannya dari twitter, tampilan plurk juga lumayan unik. Kalau timeline twitter berjalan secara vertikal, plurk bertimeline horizontal, kecuali kalau pakai plurk mobile. Yang belum terbiasa akan agak riweh barangkali ya dengan model begini. Tapi lama-lama asik kok :)

Hal lain yang membuat plurker *sebutan untuk plurk user* betah untuk ngeplurk adalah sistem mengumpulkan point yang di dunia plurk disebut karma. Setiap hari akan ada penambahan karma yang membuat plurker bisa mendapatkan emoticon baru serta bisa ngumpulin badges. Karma juga akan bertambah jika setiap hari kita login, aktif merespon tret plurker lainnya, dapat rikwes untuk berteman, danlainlain. Untuk karma di atas 10, plurker bisa kasi judul di timeline, kayak akun saya, judulnya: dhz.thekupu. Karma di atas 25, dikasi emoticon baru. 40 ke atas, bisa ganti display name, dan 50 ke atas dapat special emoticon. Kalo sampe 100? Congrats! Welcome to nirvana club!

Tadinya, plurk hanya membatasi karma sampai 100. Tapi sepertinya banyak plurker yang kabur karena ngapain lagi ngeplurk kalo udah sampai batas maksimal. Maka, *ini tebak-tebakan saya aja nih hehe* developer plurk pun menambah kuota karma menjadi lebih dari 100. Malah, yang terbaru dan mengasyikkan juga untuk yang suka sama emoticon yang unyu-unyu, sekarang ada menu baru: my emoticons. Caranya, upgrade profile kita dulu sampai 100%, baru pilih sendiri mau emoticon dan keyword yang bagaimana. Pengen emoticon lainnya? Ke lab emot plurk aja deh ;)

Ngeplurk yuk aahh. Rasakan sendiri asiknya :D Saya sendiri udah ngeplurk dari 10 oktober 2008. Lumayan lama yaa. Kalo karma bisa dituker beras, berasnya udah 1 ton deh kayaknya ihihihi. Anyway, sampai hari ini saya masih kurang yakin bagaimana pelafalan kata 'plurk' yang benar. Apakah plurk as it is written, ataukah plark, ah ga tau deh. Bagaimanapun cara bacanya, see you on plurk yaaa...
Read More

Segera selesaikan kuliahmu, nak..

Hari ini, si ganteng alias adik saya Nizamuddin Arriyadhi mulai menjadi mahasiswa FKIP Bahasa Inggris di Universitas Tanjungpura. Sama dengan saya? Jurusan dan program studinya sama, tapi jam belajarnya beda. Yoih, adik saya ambil kelas reguler B. Sementara itu, salah satu siswa saya di kelas IPA MAN 2 Pontianak, sebut saja namanya Arif Cahyo Imanuddin *nama sebenarnya*, kuliah di jurusan dan prodi yang sama dengan saya, dengan jam belajar yang sama juga, kelas pagi alias regular A. Nah, pagi tadi keduanya nanya-nanya ke saya tentang dunia kuliah. A lot of things they asked.

Sebetulnya, bukan tadi pagi saja saya ditanyai tentang dunia perkuliahan, especially di FKIP Bahasa Inggris tempat saya menimba ilmu. Jauh hari sebelum saya selesaikan skripsi, sebagian siswa saya di MAN 2, di bimbel, di kursusan sudah cukup banyak bertanya tentang seperti apa kuliah nanti. Maka, saya yang saat itu sudah kuliah pun berbagi apa yang saya tau dan saya alami. Berdasarkan pengalaman pribadi tentunya :D

Bicara tentang kuliah, saya jadi teringat di awal-awal kuliah dulu, ada kalimat selewat yang mampir di telinga kami *saya, Linda, dan Fika yang dari awal kuliah sampe dengan selesai hampir selalu bersama-sama*. Sederet kalimat yang berbunyi: "Aaah, di awal kuliah sih emang rajin, semangat 45. Tapi liat lah nanti kalo udah di tengah-tengah menuju akhir, pasti ilang tuh semangat di awal." Sebagai mahasiswa baru, waktu itu kami percaya aja deh. Tapi, setelah kami jalani, alhamdulillaah kalimat tersebut, sama sekali tidak terjadi pada kami. Sempat agak lemes ketika kerjakan tugas, ya. Tapi tidak sampai kehilangan semangat sama sekali sehingga harus membuat kami berhenti kerjakan tugas maupun skripsi. Rugi doonk.

Memang, beberapa senior yang kami kenal, baik di fakultas yang sama maupun fakultas lainnya, kentara sekali mengalami penurunan semangat untuk selesaikan studi mereka. Yah, saya pribadi menilainya dari lamanya waktu studi mereka. Idealnya, kalo di Untan sih ya, kuliah itu bisa diselesaikan dalam waktu 3,5 - 5 tahun. Untuk mahasiswa di beberapa fakultas, selesai dalam waktu 3,5 tahun mah gampang. Tapi di fakultas tertentu lainnya, bisa selesai 4,5 tahun sudah bersyukur kepada Allah Yang Maha Esa.

Maka dari itu, jikalau ada beberapa rekan, baik rekan senior, seangkatan maupun junior yang selesaikan kuliah sampai lebih dari 5 tahun, saya golongkan sebagai mahasiswa yang semangatnya sempat meredup. Kenapa demikiaaan? Sebelumnya, maaf yeee untuk yang tersinggung hehehe.. Ini hanya analisa saya, sekaligus juga siapa tau bisa jadi sedikit motivasi untuk cepat-cepat hengkang dari kampus heheh.

Nah, kenapa sih seorang atau beberapa orang mahasiswa bisa sampai menurun semangatnya untuk selesaikan kuliah? Menurut saya pribadi, hal tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan atau faktor eksternal.

Faktor internal antara lain:

1. Malas.
Ini sepertinya menjadi alasan paling banyak mendera mahasiswa tingkat akhir. Sewaktu kuliah, saya cukup sering nongkrong di kantin kampus dan mendengar langsung alasan ini dari beberapa teman. Ah, sebagian besar malah. Bahkan, saya pun pernah kok mengalaminya ihihi. Tapi alhamdulillaah segera terbangun dari rasa malas ketika teringat motivasi yang saya punya supaya bisa segera hengkang dari kampus tercinta.

2. Kurang memiliki motivasi.
Ini juga sebetulnya yang membuat beberapa mahasiswa tingkat akhir sulit lepas dari rasa malasnya. Punya motivasi itu sangat perlu. Waktu itu, ketika malas pelan-pelan menghampiri saya, dan saya mulai terlena, saya munculkan segera motivasi saya. Antara lain: Saya tak mau kecewakan orang tua. Kalau menuruti rasa hati siih, saya merasa waktu itu sudah dalam zona aman dan cukup nyaman.

Tanpa gelar s1, saya bisa mengajar di sanasini, saya bisa menjadi dosen, saya sudah punya kerjaan kok. Tapi, berhubung sayalah yang memulai belajar di FKIP Bahasa Inggris Untan kala itu, maka saya pula yang harus selesaikan studi saya. Membahagiakan kedua orang tua yang sampai hari ini selalu membuat saya bahagia. Selain itu, memberi contoh kepada adik-adik saya bahwa kalau kuliah nanti, jangan sampai berhenti di tengah jalan karena itu berpotensi menyakiti hati kedua orang tua kita. Begitulah beberapa motivasi yang saya punya. Oh 1 lagi, waktu itu saya pengen nikah ihihi. Walopun menikah tak perlu ijazah s1 dan tak penting lah gelar S.Pd di undangan walimah, tapi bagi orangtua saya saat itu, lebihbaik selesaikan kuliah dulu baru deh nikah. Alhamdulillah yahh, I got both now :D

3. Sibuk cari uang
Alasan yang ketiga ini sangat banyak saya temukan di kampus saya. Memang sulit mencari mahasiswa prodi Bahasa Inggris yang tidak mengajar. Rata-rata teman saya waktu itu, minimal mengajar di 1 tempat les. Bahkan ada yang mengajar di sekolah. Ah, yang ngajar di kampus aja ada kok :p Tak hanya mahasiswa prodi Bahasa Inggris saja yang rajin bekerja, dari fakultas dan prodi lain pun tentunya tak kalah banyak. Ada yang sambil bisnis suvenir, sambil kerja sebagai SPG, kerja sebagai administrasi kantor, jadi guru ngaji, sambil jadi penyiar, ah macem-macem profesi deh. Mahasiswa yang bekerja itu emang keren siih B-)

4. Time management yang buruk.
Keenakan cari duit, rupanya lupa untuk atur skala prioritas. Jeleknya, pengaturan waktunya jadi kacau. Lupa kalau masih kuliah. Lupa kalau nyusun skripsi itu melibatkan dosen yang jauh lebih sibuk daripada sekedar mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Salah seorang dosen pembimbing saya pernah cerita ke saya, ada mahasiswa bimbingannya yang ketika diminta untuk datang jam sekian untuk konsultasi skripsi malah bilang gak bisa karena tabrakan sama jadwal ngajar. Pliss deh. Kalau sudah seperti ini, sebaiknya ngajarnya dipending dulu deh. Kalo perlu, ketika sudah masuk fase nyusun skripsi yang memerlukan fokus lebih tinggi dan lebih banyak waktu untuk konsultasi dengan dosen, kurangi dulu lah jam kerjanya. Karena, tak bisa juga kita salahkan dosen untuk perkara yang sebetulnya menjadi kekurangan kita sebagai mahasiswa.

5. Cuti.
Cuti nikah, cuti hamil, cuti beasiswa, cuti program pertukaran pelajar, dan cuti-cuti lainnya membuat mahasiswa terpaksa jadi lama selesaikan studinya. Asalkan habis cuti jangan malah jadi lupa aja sih ya kalo masih ada kuliah yang harus dilanjutkan.

Itu beberapa Faktor internal yang saya rangkum menjadi 5 items. Kalau temanteman merasa bahwa tak satupun dari 5 faktor itu ada di diri temanteman, maka barangkali beberapa faktor eksternal ini yang jadi penyebab mandegnya studi:

1. Dosen sibuk
Namanya juga dosen, ya wajar kali ya kalo sibuk. Tapi kadangkala ada juga dosen *yang menurut pandangan mahasiswa* sibuknya udah kebangetan. Seperti lupa kalo punya bimbingan. Susah beuudz mau ketemuan doang. Sering mondar mandir ke luar negeri pula. Waduuuh, repot ya. Butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi dosen super sibuk begini. Buat appointment yang rapi dan bisa dipertanggungjawabkan. Kalo semisal sampe 3x appointment dilanggar oleh dosen yang bersangkutan, mendingan segera ke pihak akademik atau pihak berwenang untuk minta diganti dosen pembimbing. Rugi donk menghabiskan waktu yang berharga untuk menunggu dosen sibuk yang tak kunjung bisa ditemui.

2. Riset yang dipilih terlalu sulit.
Ini juga pernah dialami beberapa teman saya. Judulnya ketinggianlah, sulit diaplikasikan di sekolah lah, ini lah, itu lah, blah blah blah. Hasrat hati ingin punya judul skripsi yang terkesan bombastis dan sophisticated, apa daya sarana dan prasarana belum memadai. Hasilnya, judul dirombak, riset ngulang dari awal. Aiih, ribet sendiri deh. Saya jadi teringat pesan papanya sahabat saya, Herlianti Anissa. Kata beliau, kalau untuk studi yang 'cuma' s1, jangan terlalu kedepankan idealisme lah. Nanti kalau mau s2 atau s3, silakan keluarkan semua idealismenya. Yaaah, asal jangan skripsi minta dibikinin orang lain aja. Kalo kayak gitu sih namanya curang dan memalukan.

3. Dosen menyimpan sentimen pribadi.
Hal ini pernah saya tanyakan di awal ospek dulu. Oscama namanya. Dalam auditorium Untan, dengan suara merdu *cieee, ini kata Linda loh ihihi* saya bertanya pada dosen atau bahkan dekan dari fakultas entah apa: "Pak, apakah ada dosen yang sentimen dengan mahasiswanya?". Pertanyaan saya mendapat tepuk tangan meriah dari beberapa senior yang nonton dari atas audit. Prok prok prok prok. Ge er deh saya jadinya :p Daaaan, ternyata jawaban bapak tersebut: "Tidak ada dosen yang sentimen dengan mahasiswa". Well, setelah alami sendiri proses perkuliahan, saya tidak bisa sepenuhnya setuju dengan jawaban bapak tersebut. Karena, jujur saja, memang ada dosen yang menyimpan sentimen pribadi pada mahasiswa. Terlihat dari perlakuan dosen pada mahasiswa kok.

Tapi, tentu sebagai mahasiswa, kita harus berfikir fair. Pasti ada penyebabnya kenapa seorang dosen bisa sampe sentimen ke mahasiswa. Tak mungkin dosen tiba-tiba sentimen. Barangkali ada sikap mahasiswa selama di kelas yang tidak berkenan di hati dosen. Nah, kalau temanteman merasa bahwa ada dosen yang menimbulkan gejala sentimen, sebaiknya segera caritau penyebabnya. Jangan biarkan berlarut-larut, karena harus diakui, selama di kampus 'nasib' ada di tangan dosen.

Bersikap baiklah selama di kampus. Biarin aja orang lain beranggapan kita cari muka kek, 'menjilat' dosen kek, ah terserah deh. Biarlah orang berkata apaaa. Toh, bersikap baik dan sopan sama dosen adalah salah satu akhlak mahmudah, sopan terhadap yang lebih tua #eaaaa :p

Begitulah, temanteman. Seperti apapun sulitnya perjalanan mengarungi bahtera di dunia kuliah, kobarkanlah terus semangat yang membara dalam tiap langkah temanteman. Buatlah catatan sejarah yang baik. Jika ingin dikenang sebagai seorang alumni fakultas dengan prestasi cumlaude, buatlah dari sekarang. Gelar yang hanya s1 memang bukan apa-apa. Tapi perjalanan menuju ke sana menjadi sebuah pertanda, bahwa kita menghargai proses belajar, bagaimana kita menghargai kejujuran, dan pada akhirnya kepuasan tersendirilah yang akan kita raih.

Selamat melanjutkan perjuangan di bangku kuliah. Semoga keluar dari kampus dengan hasil gilang gemilang.
Read More

Tuesday, September 13, 2011

Orang dewasa belum tentu dewasa

Saya teringat pesan sebuah iklan rokok: tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Atau sebuah kalimat dalam wawancara yang saya simak sekilas: usia hanyalah sekedar angka. Begitulah. Tidak ada yang bisa menjamin semua orang dewasa bersifat dewasa. Adult doesn't mean mature. Sebagaimana seringkali juga kita saksikan di muka bumi, anak kecil masakini telah tumbuh 'dewasa' sebelum waktunya. Meskipun, yaah, kalimat barusan lebih sering bermakna negatif daripada positif.

Apa sebetulnya ciri-ciri seseorang bisa kita katakan dewasa? Beragam dan sangat relatif. Jika menurut saya seseorang yang hampir tiap menit ganti display picture dan personal message di BBM tidak dewasa, belum tentu menurut yang lain begitu. Atau, jika menurut suami saya terlalu banyak berkicau yang remeh temeh adalah hal yang tidak dewasa, belum tentu menurut saya begitu. Ah, memang agak sulit ketika kita harus menghakimi seseorang whether or not dia bersifat dewasa.

Anyway, saya rasa sebagian besar orang sependapat bahwa sifat dewasa itu diartikan sebagaimana paham waktu dan situasi dia harus berkata dan bertindak, untuk kemudian berani bertanggung jawab dengan segala ucapan dan perilakunya. Selain juga bertingkah laku sesuai dengan ucapannya, tentunya.

Bersifat dewasa, *kalau yang ini menurut saya ya hehe* berarti berani bersikap ksatria. Ketika merasa salah, ya akuilah bahwa ucapan atau perbuatan kita salah. Perkara oranglain bersedia memaafkan atau tidak, biarkanlah menjadi urusan hatinya dengan Sang Maha Pembolakbalik hati. Toh, mengutip Mario Teguh, setiap kesalahan bisa dimaafkan meskipun tidak semua kesalahan bebas dari tanggungjawab.

Bicara tentang maaf-maafan, di bulan Syawal ini memang sebaiknya tak elok mengingatingat perkara yang telah lalu, kecuali mengambil hikmahnya saja. Jika Allah saja Maha Pemaaf, masa siiih kita tak ingin menjadi lebih dewasa dengan 'mengadopsi' sifat Allah yang Pemaaf? ;)

Sebuah pertimbangan pula untuk memaafkan khilaf seseorang: Ketika muncul permintaan maaf, kadangkala tak sekedar sesali khilaf belaka, namun lebih karena utk hargai ukhuwah yang telah lama terjalin. Maka, jika pintu maaf belum terbuka, dan tak kau jumpakan aku untukmu lagi, jangan kau sesali setitik egomu ketika kau abaikan pinta maafku ;)

Setuju? Saya setujuuu. Meskipun saya sendiri, di usia 24 tahun ini, masih sedang menjajaki diri menuju tahap ideal tersebut. Marilah mari kita samasama berbenah sendiri, selagi hayat masih di kandung badan.
Read More

© coba template, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena