coba template

Words and Sentences are Inspiration and Motivation

Showing posts with label muara.hatikupu. Show all posts
Showing posts with label muara.hatikupu. Show all posts

Monday, March 26, 2012

Melanggar Peraturan

Nah lho..

As I label this post under 'muara.hatikupu', so this is actually more than a self-reminder to me.

For seeing the pic, a question appeared in my mind. Apakah ini manusiawi? Entahlah. 

Tapi di kehidupan seharihari pun, sering juga kan kita saksikan tindakan-tindakan melanggar peraturan? Mulai dari peraturan agama, peraturan pemerintah, peraturan orang tua, peraturan  lalu lintas, peraturan kantor, peraturan kampus, peraturan sekolah, dan macam-macam peraturan lainnya.

Foto di atas saya ambil di Bandung pada 27 Mei 2008, di sekitar Pasar Baru kalo gak salah. Selagi menunggu, saya melihat pemandangan unik tersebut. Dan foto tersebut hanyalah 1 dari sekian banyak contoh nyata implementasi dari kalimat Peraturan dibuat untuk dilanggar. Out of case kalo yang jualan di situ mungkin luput membaca tulisan tersebut ._.


Melanggar peraturan di sini maksudnya yang disengaja. Jadi, sudah tau dilarang,  udah tau tak boleh, masih saja dilanggar. Kita *artinya termasuk saya* pun pastilah pernah melanggar peraturan, sebaik apapun diri kita menurut penilaian orang lain. Sudah tau lampu merah artinya berhenti, tapi tancap teruuus berhubung lagi sepi dan tak ada polisi. Sudah tau tugas dari dosen deadlinenya tanggal sekian, masih saja sengaja ditunda-tunda. Sudah tau  Sudah tau shalat 5 waktu itu wajib, masih saja dilanggar. Dan jenis "sudah tau-sudah tau" lainnya...

Maaanuuusiiiiaaa. Punya hati, tapi tak digunakan untuk memahami. Punya mata tapi tak digunakan untuk benar-benar melihat. Punya telinga, tapi tak digunakan untuk menyimak.

Sesuai deh dengan Firman Allah berikut ini:

"Sesungguhnya Kami Jadikan untuk [isi neraka Jahanam] kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami [ayat-ayat Allah] dan mereka mempunyai mata [tetapi] tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga [tetapi] tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai" (QS. al-A'raf : 179)

Itu kabar buruknya. 

Kabar baiknya, Allah menciptakan manusia dengan potensi fisik dan psikis yang maksimal, bisa berkembang dengan baik. Al-Qur'an berulangkali mengangkat derajat manusia dan berulangkali pula merendahkan derajat manusia. Manusia dinobatkan jauh mengungguli alam surga, bumi dan bahkan para malaikat. Allah juga menetapkan bahwa manusia dijadikan-Nya sebagai makhluk yang paling sempurna keadaannya dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain (lihat QS.95:4). Allah menciptakan manusia dengan susunan yang proporsional. Sebagaimana dalam QS 82:7.

Nah, sebagai makhluk yang diciptakan Allah sebagai makhluk paling canggih, dilengkapi dengan sukma kefasikan dan ketaqwaan, kita tinggal pilih, mau maksimalkan potensi fasik yang sudah tau salah tapi tetap dilakukan, atau potensi taqwa, yang berusaha keras untuk ta'at pada aturan Allah, juga peraturan-peraturan lainnya yang tujuannya tak lain tak bukan adalah untuk kebaikan kita pula. 

Well, then. Life is a choice. The choice is in your hand. You do your choice, you also get the risk :)
Read More

Friday, March 16, 2012

The Power of Positive Thinking



Positive thinking is a mental attitude that admits into the mind thoughts, words and images that are conductive to growth, expansion and success. It is a mental attitude that expects good and favorable results. A positive mind anticipates happiness, joy, health and a successful outcome of every situation and action. Whatever the mind expects, it finds.

Not everyone accepts or believes in positive thinking. Some consider the subject as just nonsense, and others scoff at people who believe and accept it. Among the people who accept it, not many know how to use it effectively to get results. Yet, it seems that many are becoming attracted to this subject, as evidenced by the many books, lectures and courses about it. This is a subject that is gaining popularity.

It is quite common to hear people say: "Think positive!", to someone who feels down and worried. Most people do not take these words seriously, as they do not know what they really mean, or do not consider them as useful and effective. How many people do you know, who stop to think what the power of positive thinking means?

When the attitude is positive we entertain pleasant feelings and constructive images, and see in our mind's eye what we really want to happen. This brings brightness to the eyes, more energy and happiness. The whole being broadcasts good will, happiness and success. Even the health is affected in a beneficial way. We walk tall and the voice is more powerful. Our body language shows the way you feel inside.

How to stimulate positive thinking to come into mind? Always visualize only favorable and beneficial situations. Use positive words in your inner dialogues or when talking with others. Smile a little more, as this helps to think positively. Disregard any feelings of laziness or a desire to quit. If you persevere, you will transform the way your mind thinks. 

Once a negative thought enters your mind, you have to be aware of it and endeavor to replace it with a constructive one. The negative thought will try again to enter your mind, and then you have to replace it again with a positive one. It is as if there are two pictures in front of you, and you choose to look at one of them and disregard the other. Persistence will eventually teach your mind to think positively and ignore negative thoughts.

In case you feel any inner resistance when replacing negative thoughts with positive ones, do not give up, but keep looking only at the beneficial, good and happy thoughts in your mind. It does not matter what your circumstances are at the present moment. Think positively, expect only favorable results and situations, and circumstances will change accordingly. 

Have you ever had the power of having positive thought? Share yours :)
Read More

Sunday, March 11, 2012

Dzikrul Maut

Dzikrul Maut

Siang itu matahari bersinar cukup garang menyirami pekuburan Pondok Kelapa mengiringi jenazah almarhumah ibunda dari pimpinan perusahaan tempat saya bekerja. Tanah merah yang kering menjadi berdebu diterpa angin yang bertiup kencang. Perlahan-lahan tubuh almarhumah mulai dimasukkan ke dalam liang lahat. Sanak famili yang datang tertunduk haru bahkan ada yang tak tertahankan tangisnya. 

Setelah jenazah diletakkan di dalam lubang dan tali pengikat kafan dilepaskan para penggali kubur menutupinya dengan tanah dan di atasnya ditanamkan batu nisan. Itulah akhir episode kehidupan seorang anak manusia yang telah habis masa hidupnya di dunia dan mulai memasuki kehidupannya yang baru di alam kubur. 

Terbayang olehku gelapnya alam kubur, Ya Allah sanggupkah tubuh yang penuh dengan debu dosa dan maksiat ini menghadapi kepengapan, kesempitan dan kesunyiannya? Belum lagi mahluk-mahluk kecil yang siap menjelajahi tubuh ini hingga perlahan-lahan menghancurkannya dan menyisakan tulang belulang. 

Tak ada lagi gemerlap kehidupan dunia, mobil mewah yang kita miliki tidak ikut masuk ke dalam lubang ukuran 2 x 1 m di kedalaman 2 m, deposito dollar, saham perusahaan, tanah 1000 hektar, istri yang cantik, jabatan semuanya kita tinggalkan. 

Ya Allah jadikanlah kubur sebagai pengingat diri dari berbuat zhalim dan melanggar perintah-Mu.

Kubur adalah rumah masa depan kita, rumah yang seharusnya kita persiapkan jauh-jauh hari. Kalau untuk rumah di dunia saja kita sibuk ambil kredit, mati-matian menabung bahkan tidak jarang ada yang bela-belain korupsi hanya untuk mendapatkan rumah. Lantas kenapa untuk peristirahatan yang abadi kita malah lalai bahkan lupa? 

Ya Allah, jadikanlah sisa umur ini menjadi usia yang penuh manfaat dan keberkahan sehingga menjadi penolongku nanti. 

Ingatkah waktu hendak membangun rumah kita sibuk merancang arsitektur, pondasi, bangunan fisik dan interiornya? Begitu cermatnya kita hingga tidak segan mengeluarkan biaya besar untuk mewujudkannya. Lalu bagaimana dengan rumah masa depan kita? Sudahkah kita merancang arsitektur ibadah kepada Allah, lalu kita gali diri ini dengan ilmu untuk memperkokoh pondasi keimanan dan ketakwaan, kemudian kita bangun tiang-tiangnya dengan shalat khusyu' nan ikhlas disertai dinding amal sholeh serta kebaikan, dan tak lupa menutup atap rumah kita dengan infak di jalan Allah. 

Ya Allah, seandainya kau cabut nyawaku saat ini juga jadikanlah sebagai akhir yang baik dan mudahkanlah. 

MZ Omar 
omar@***.co.id 

Sebuah tulisan yang saya tujukan untuk saya sendiri. Untuk mencambuki diri yang terkadang malas mempersiapkan rancangan yang kokoh untuk bekal membangun rumah masa depan.
Read More

Wednesday, March 7, 2012

Sentimen Pribadi

Terkadang kita lupa

Sebelum menulis postingan ini lebih lanjut, saya mencari terlebih dahulu pengertian 'Sentimen'. Repot juga nanti kalo salah makna. Dari wiktionary, saya dapatkan beberapa pengertian 'sentimen'.

Sebagai kata benda atau nomina, sentimen bisa berarti:

  1. pendapat atau pandangan yang didasarkan pada perasaan yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu (bertentangan dengan pertimbangan pikiran)
  2. emosi yang berlebihan
  3. reaksi yang tidak menguntungkan

Sebagai kata sifat atau ajektiva, sentimen dimaknai sebagai:

iri hati; tidak senang; dendam


Kali ini, yang akan saya tuliskan adalah tentang sentimen pribadi. Silahkan dimaknai sendiri berdasarkan pengertian-pengertian di atas :D

Menurut saya, for certain cases, menyimpan sentimen pribadi itu sungguh merepotkan diri sendiri. Bagaimana tidak? Soalnya orang dengan sentimen pribadi memiliki beberapa ciri sebagai berikut:


  • Mencari-cari kesalahan sekecil apapun
  • Mengenyampingkan hal-hal baik yang telah dilakukan seseorang atau sekumpulan orang sehingga jadi lebih mudah untuk lost focus.
  • Mengabaikan azas praduga tak bersalah *udah mirip istilah yang belakangan dipakai oleh pengacara para koruptor ya? hihhi*
  • Senang dan bahagia melihat kekeliruan pada orang lain, bahkan pada teman atau saudara sendiri
  • Terindikasi mirip dengan musuh dalam selimut
  • Gelisah melihat teman yang disentimeni berjaya.

Wrapping it into a conclusion, orang yang menyimpan sentimen pribadi itu susah sekali berbuat adil. Mungkin masih terkendala dalam mengimplementasikan firman Allah di QS Al Maidah: 8:

"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Sehingga, akibat sudah terlanjur memiliki sentimen pribadi (baca: benci) terhadap suatu kaum, jadi sedikit sulit untuk mengedapankan prinsip tabayyun (konfirmasi) ketika mendapat berita tak menyenangkan tentang suatu kaum tersebut. Lupa dengan prinsip tabayyun: bukan membuktikan kesalahan melainkan mengurangi prasangka negatif.

Semoga kitakita yang masih menyimpan sentimen pribadi terhadap suatu kaum, ke depannya bisa melenyapkan atau setidaknya mengikis sedikit demi sedikit tabiat ini ya. Bukannya apa, kalau sudah menyimpan sentiman pribadi, biasanya jadi lebih sibuk caricari kesalahan orang daripada memuhasabah diri.

"Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi (membicarakan) aib orang lain." (HR. Ad Dailami)

Mari kita fokus pada perbaikan diri, tak sibuk dengan aib-aib orang lain, apalagi kalau jauh dari niat saling cinta karena Allah, hingga memutus silaturrahim. Na'udzubillahimindzalik.

Wallahualam Bisshhowwab.
Read More

Sunday, February 19, 2012

Menjaga Mulut dan Jempol

Jaga Mulut


Hidup di era globalisasi dengan akses komunikasi yang terbuka lebar selebar-lebarnya dan semakin banyak social media seperti sekarang ini sungguh merupakan tantangan berat. Loh? Bukannya semakin mudah dan banyak akses komunikasi justru semakin mempermudah hidup ya? In some cases, yes. Untuk menunjang komunikasi pasangan suami istri yang terpaksa menjalin Long Distance Relationship, misalnya. Juga untuk para pengusaha online shop. Banyaknya socmed justru semakin membuat dagangan mudah untuk laris maniisss.

Tantangan berat yang saya maksud adalah di bagian menjaga jempol dari menuliskan hal-hal yang sebaiknya tidak dituliskan, serta menjaga mata dari membaca hal-hal yang sebaiknya tidak dibaca. Saya sebetulnya sangat takut, takut banget kena "kaburo maqtan 'indallaah an taqulu ma la taf'aluun"Sungguh besar kemurkaan di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. :(((( Saya sendiri, jujur saja, PERNAH melakukan ini :( Dan berjanji kapada diri saya sendiri untuk tak lagi melakukannya setelah membaca sebuah hadits tentang hal ini *rasanya pengen ga jadi nulis aja deh ini T__T

Anyway, sebelum dilanjutkan, semoga tulisan ini bisa menjadi friendly reminder bagi kita bersama, terutama yang sampai detik ini masih sering menyebut-nyebut kejelekan orang lain, bahasa kerennya: GHIBAH, baik secara lisan maupun tulisan. Apa itu ghibah? 

Rasulullah Saw pernah menguji para sahabat dengan pertanyaan “Tahukah kamu apa ghibah itu? sahabat menjawab: Allah dan Rasulullah yang lebih tahu. Kemudian Nabi bersabda: Menceritakan keadaan saudaramu yang ia tidak suka diceritakan pada orang lain. Lalu Sahabat bertanya: Bagaimana jika memang benar keadaan itu ? Nabi menjawab : "Jika benar yang kau ceritakan itu, maka itulah ghibah, tetapi jika tidak benar ceritamu, maka itu disebut buhtan (fitnah) dan itu lebih besar dosanya"

Astaghfirullahal'adziim. See? 
Kalau benar, itu ghibah. 
Kalau salah, itu fitnah. 

Terlebih, menceritakan keadaan masa lalu seseorang yang sudah jelas-jelas tak suka kalau dikisahkan kepada orang lain. Siapapun itu orangnya, orang dekat sekalipun. Untuk apa memangnya tau cerita lalu orang lain? Apalagi kalau ceritanya disimak sepihak, belum tentu betul pula. Na'duzubillahi min dzaliik. 

Hadits yang membuat hati saya gundah gulana adalah hadits ini:

Rasulullah bersabda “Ghibah itu lebih keras daripada zina.” Mereka bertanya: “Bagaimana ghibah lebih keras dari zina, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang telah berzina, kemudian bertaubat dan Allah pun mengampuni dosanya, sedangkan orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni Allah, hingga orang yang di-ghibah-nya mengampuninya.” (HR. Baihaqi)

Setelah baca hadits ini beberapa hari lalu, rasanya ingin sekali punya mesin waktu supaya tau siapa saja yang baik sengaja maupun tidak, pernah saya jadikan objek ghibah. Sungguh lidah ini tidak bertulang, gampang sekali terpancing untuk mengucapkan perkara-perkara yang sudah jelas haram :( Begitu pun jempol dan jemari lain yang seharusnya lebih banyak dipakai untuk hal yang lebih baik. 


Lewat postingan ini, saya memaafkan siapapun yang pernah menjadikan saya sebagai objek ghibah, dimintai maaf maupun tidak. Sekaligus minta tolong diingatkan ya teman-teman bilamana tulisan saya di social media manapun (twitter, facebook, plurk, hi5, dll) mengandung unsur-unsur ghibah. Saling mengingatkan :)


”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr 1-3).


Wallahualam bisshawwab.
Read More

Tuesday, February 14, 2012

I was, am, and will...

"The clock is running. Make the most of today. Time waits for no man. Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. Today is a gift. That's why it is called the present." 



Wooow, I've been about 5 years managing this blog! Berrrmacam-macam topik tulisan dari sejak saya masih duduk di bangku kuliah semester 3: nikah *paling sering kayaknya wkwkwk*, persahabatan, bahasa, tugas belajar, pekerjaan, asmara, keuangan, yaakk mulai berasa seperti akan bacain zodiak. Errr...


Pernah beberapa kali saya tuliskan tentang masa lalu. Sebagian kita mungkin tak lagi malumalu saat harus menertawakan masa lalu. Tertawa malu melihat tulisan tentang kenangan dengan someone special di diary saat SMP. Atau membongkar tumpukan buku dari dalam gudang kemudian menemukan selembar kertas usang yang isinya surat mesra. Awww, ngapain disimpan-simpan sih ya. Hihihi.


Namun barangkali kita punya alasan masing-masing untuk tetap menyimpan beberapa bukti otentik yang menjadi bagian dari masa lalu. Seperti saya yang tetap menyimpan tulisan-tulisan saya sejak 5 tahun lalu, 4 tahun lalu, 3 tahun lalu, 2 tahun lalu, dan setahun lalu di blog ini. Selain untuk database dan memang malas sayang untuk dihapus-hapusin, melalui tulisan-tulisan itu saya bisa introspeksi diri, membandingkan saya yang dulu dengan yang sekarang, mengambil pelajaran berharga dari tiap kalimat di sana. Sebagaimana bunyi blog description mbak temi: It's not about the writing. It's about the feeling behind the words.


Butterfly was just an egg

Kalaupun kemudian terjumpakan cerita-cerita horor tak menyenangkan di masa lalu, ya simpan saja itu, tak perlu ditebar kesana kemari, apalagi kelewat diratap-ratapi. If you are still talking about what you did yesterday, it means you haven't done much today. Lihat yang sekarang sajalah. Toh meskipun hidup ini kita jalani melalui proses yang ada, yang akan dilihat di penghujung hari kelak tetaplah bagaimana kita saat ini. Yes, as Alice Morse Earler said: make the most of today!


Metamorfosis sempurna
Seperti kupukupu, metamorfosisnya sempurna. Hidupnya bermula dari telur, larva, pupa, dan imago! Jadilah ia dewasa. Kupu-kupu yang cantik. Meskipun keberadaannya tak lama di dunia, namun saat kita jumpai imago yang telah mati, kita tetap mengenalinya sebagai kupu-kupu. Bukan pupa, larva, apalagi telur. Begitu pun kita sebagai manusia. Berproses seperti siklus hidup kupu-kupu, dan berharap tinggalkan dunia ini dengan akhir yang terbaik: husnul khotimah. Insya Allah.


So, there I was, here I am, and still have no idea how I would be tomorrow. Semoga berakhir indah dan cantik, lebih cantik dari semua kupukupu di dunia...
Read More

Tuesday, February 7, 2012

Pantai Kijing

Saya di Pantai Kijing
Indonesia tercinta, negara agraris, negara maritim. Banyak sawahnya, banyak juga pantainya. Di Kalimantan Barat, pantainya lumayan banyak looh. Beberapa daftar pantai di Kalbar bisa teman-teman baca di blognya Eel Pecidasase yang sekitar setahun ini blognya jadi jauh lebih keren dan lebih update dari blog saya. Naaah, salah satu pantai yang belum lama ini saya kunjungi adalah Pantai Kijing

Suami di Pantai Kijing
Hari itu, 27 Desember 2011, saya dan suami memutuskan untuk pergi ke Mempawah. Rencananya sih mau ziarah ke makam kakek dan neneknya suami. Berhubung sudah lama saya ga main ke pantai, berinisiatiflah suami saya kebut teruuuus hingga 15 km ke arah utara kota Mempawah. Sampailah akhirnya kami ke Pantai Kijing. Meskipun menurut sebagian teman-teman saya Pantai Kijing bukanlah pantai yang worthed enough untuk dikunjungi, anyway ketika saya sampai di sana, Subhanallaah melihat lautan luas, angin meniup-niup jilbab biru saya yang serasi banget kan ya sama suasana pantai hihihi. Takjub rasanya.

Begitu nyampai sana, saya langsung minta difoto sama suami *bawaan profesi: mantan model. wkwkwk*. Walaupun cuman difoto pakai kamera ponsel, hasilnya lumayan oke dokeh kan? *winkwink* Kalo kata tante saya, sekilas mirip gambar yang biasa dipake buat di kalender hahaha. Di Pantai Kijing, tak lupa pula, supaya kayak anak gaul *halah* suami saya menuliskan nama kami di atas pasir, dan saya berpose seolah-olah saya sudah selesai menuliskannya. Huehuehehehe. Sungguh sesuatuh.


Menulis nama di pasir
Oh, saya baru tau rupanya pantai kijing ini dijadikan semacam track balapan motor. Hari itu tak ada orang balapan. Karena tidak ada jadwal atau karena sudah akhir tahun, atau karena hari itu bukan hari libur, I don't really know juga. Yang jelas, bagi kami track balapan ini sama sekali tidak mempengaruhi kebersamaan, kemesraan dan keromantisan kami. Cikicieew.

Sesudah berjalan berdua bergandengan tangan menyusuri pantai sembari menikmati hembusan angin siang hari, kami singgah ke kantin yang jual snack dan minuman. Kami pesan air kelapa langsung dari buahnya, supaya makin berasa suasana pantainya, dan sepiring rujak. Baru kali ini dah saya nemu pantai jualan rujak hueuehehe. Ternyata bumbu rujaknya lumayan enak looh. Untuk 1 buah kelapa dan sepiring kecil rujak yang enak itu, kami hanya membayar Rp. 15.000 saja. Lumayan laah daripada manjat kelapa sendiri kan.

Yak, sudah foto-foto, sudah jalan, sudah makan, sudah minum air kelapa, waktunya pulang. Kalau teman-teman suatu hari dikasi kesempatan untuk datang ke Kalimantan Barat, jangan lupa mampir ke Pantai Kijing yaa..
Read More

Sunday, February 5, 2012

Gunam Indah Sekadau

Time is really running quickly ya. Ga berasaaa, dah mau setahun aja saya berdomisili di Sekadau. Awww, mengingat betapa sedihnya hati ketika 2 pekan setelah sah menjadi istri, harus pindah ke kabupaten kecil nan berdebu ini. Di semester pertama pernikahan, entah sudah berapa kali saya minta balik Pontianak. Masih belum terbiasa sama udara Sekadau yang gaharrr. *ini alasan yang dicaricari, aslinya sih karena di Sekadau tidak tersedia caikue panas dan empek-empek palembang huwaaa huwaaaa*.

Setahun di Sekadau, baru 1 tempat wisata yang saya kunjungi. Saya pun kurang tau juga whether or not Taman Wisata Gunam Indah ini layak disebut sebagai tempat wisata. Pertama kalinya diajak rihlah sama teman-teman sehalaqoh ketika libur nasional, tanggal 23 Januari 2012 pas lagi libur Imlek. Maka, pergilah siang itu saya ke Gunam. Ternyata, tempatnya tak terlalu jauh dari ruko tempat saya bernaung. Untuk mencapai ke sana diperlukan waktu sekitar 20 menit.

Begitu nyampe di sana, wooow lumayan takjub juga ternyata ada juga tempat semacam ini di Sekadau. Udaranya lumayan sejuk, kanan kiri pepohonan, dihiasi dengan suara air mengalir yang adem. 

Taman Wisata Gunam Indah

Berhubung di tempat ini lokasi untuk nongkrongnya agak ke atas (kalau dilihat dari gambar, saya harus melewati genangan air itu kemudian menuju ke tempat bapak yang pake baju putih itu, trus 'mendaki' sedikit ke atas), maka naiklah saya dan teman-teman ke sana. Daaan ternyata pemirsah, sayang sekali karena tampaknya Gunam yang sejuk ini telah disalahgunakan untuk tempat berdua-duaan oleh beberapa remaja dan orang dewasa yang tidak bertanggung jawab *padahal di sekitar rame orang, tapi berhubung lagi pacaran yaaah yang lain dianggap ngontrak kali yeee*

Penampakan orang pacaran

Apa-apaan banget kan. Huh, sebeeel deh. Akhirnya saya dan teman-teman memutuskan untuk nongkrong pas di depan 2 orang yang lagi peluk-pelukan di tempat umum itu. Sengaja, biar cepat kaburrr. Tapi rupanya walopun kami dan beberapa anak teman saya udah menyengaja gelar tikar di dekat mereka, ga kabur-kabur juga *tepokjidat*. Mereka baru pulang setelah ada angin kencang seperti tanda-tanda mau hujan. Ajaibnya, segera setelah mereka hengkang dari pandangan kami, anginnya jadi adem ayem lagi huehehe. Subhanallaah.

Selama di Sekadau, saya memang belum pernah diajak jalan-jalan sama suami. Suami saya tadinya bukan penduduk asli sini, selain juga karena kita memang malesss mau hunting tempat wisata di sini. Warga Sekadau macam apakah kan kamiiii hehehe. Ternyata, dari hasil googling saya setelah mampir ke Gunam hari itu, lokasi wisata di Sekadau lumayan banyak juga. Tapi kayaknya tempatnya jauuuh, malesin ah hihihi. Nanti deh kalau sewaktu-waktu akan diadakan rihlah keluarga beramai-ramai, boleh deh sesekali ikut.

Anyway, at least selama hampir setahun di Sekadau, ada 1 tempat wisata yang pernah saya kunjungi. Lumayan kan daripada tidak sama sekali :p
Read More

Monday, October 17, 2011

Senang Saling Mengingatkan

Senang Saling Mengingatkan
Berinteraksi di dunia maya itu sungguh membuat perasaan campur aduk. Kadang kala senyum sendiri baca timeline beberapa teman, tak jarang pula merasa cukup kesal. Yap, karena list following saya terdiri dari beragam macam manusia yang latar belakang, usia dan isi kepalanya beda-beda: aktivis dakwah, penulis, penyiar radio, PNS, guru, siswa/i dan mahasiswa/i, beragam deh pokoknya. Dengan variasi manusia tersebut, tentu saja isi timeline jadi sangat berwarna.

Selayaknya manusia biasa, di balik warnawarni timeline saya pun kadangkala terselip khilaf dari para pekicau. Hanya saja yang membuat saya 'manas tak belawan' alias kesal gregetan dan tak kuasa mau berkata apa adalah kesalahan yang muncul tapi di sengaja. Nah! Ini tak cuma terjadi di dunia twitter saja toh? Yoih. Dalam hidup seharihari pun yang seperti ini terjadi juga. Bahkan barangkali pernah kita *ya, kita: saya dan temanteman* lakukan. Seseorang yang mukallaf (sudah bisa membedakan mana yang benar dan yang salah) memilih untuk berbuat/ucapkan yang salah. Sedih ya :(

Contoh kecil deh. Sudah tau kalo shalat 5 waktu itu wajib hukumnya, fardhu 'ain. Masih pula sengaja tak dikerjakan. Atau contoh yang lebih sederhana lagi. Sudah tau 'Alhamdulillah' itu seharusnya ya 'Alhamdulillah', eeh malah sengaja ditulis salah-salah. Yang lebih menyakitkan lagi, sudah tau Rabbnya adalah Allah bukan owwoh, tapi kenapa sering sekali salahnya itu diulang-ulang? Apa dipikirnya lucu mempermainkan nama Rabb yang memberikan nafas untuknya setiap waktu? Tak khawatirkah Allah murka?

Firman Allah: 
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah 9: 65-66)
Na'udzubillah, tsumma na'udzubillahimindzaliik. Jangan sampai kita jadi bagian dari kaum yang bersenda gurau dengan Allah, dengan ayat-ayatNya dan RasulNya. Hal ini barangkali terkesan sepele untuk beberapa orang. Tapi perhatikanlah konsekuensi dari apa yang dianggap senda gurau dan olok-olok itu: 'kamu telah kafir sesudah beriman', Astaghfirullahal'adziim. 

Hal lain yang menyedihkan adalah, kesalahan yang disengaja ini dilakukan dengan riang gembira, menyesal sedikitpun tidak sesudah ditegur. Maka saya pun bertanyatanya tadi malam: Masih perlukah kita koreksi yang demikian ini? Saya berusaha untuk berpegang pada firman Allah Q.S Al Ashr ayat 1-3 yang dulu bersama temanteman sekelas saya baca setiap akan pulang sekolah. Watawwa shaubil haq, watawwa shaubis shabr. Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan mereka yang saling mengingatkan tentang kebenaran dan saling mengingatkan tentang kesabaran.
Juga dalam QS.Ali Imran:20, Asy-Syura:48, An-Nahl:82, Al-Anfal:38, An-Nahl:125, Al-Ma'idah:92, At-Taghabun:12. Semuanya tentang kewajiban menyampaikan yang lurus, yang haq:
QS.Ali Imron:20 "....KEWAJIBAN kamu hanyalah menyampaikan" 
QS.Asy-Syura:48 "...KEWAJIBANMU tidak lain hanyalah menyampaikan"
QS.An-Nahl:82 "... KEWAJIBAN yang dibebankan atasmu hanyalah menyampaikan "

QS.Al-Anfal:38 "KATAKANLAH PADA ORANG-ORANG KAFIR ITU"
QS.An-Nahl:125 "...SERULAH pada jalan Tuhan-mu dengan hikmah & pelajaran baik"
QS.AlMaidah:92 "...KEWAJIBAN Rasul Kami, hanyalah mnyampaikan dengan terang"  
QS.AtTaghabun:12 "...KEWAJIBAN Rasul Kami hnylah mnyampaikan dengan terang"
Namun sepertinya tak semua manusia MAU menerima firman Allah itu. Ketika diingatkan malah marahmarah, 'Ngapain lo ngatur-ngatur idup gue, atur aja sana idup lo, dasar sok alim lo'. Saya jadi ilfil kalo digituin. Huhuhu, emang agak kurang tangguh sih ya. Tapinya kalo sudah sekali, dua kali, tiga kali dikasi tau masih begitu juga, maka saya istirahat dulu lah ngasi taunya. Kasi giliran orang lain untuk mengingatkan. Toh saya sudah lakukan yang sebaiknya saya lakukan. Sisanya, urusan yang bersangkutan dengan Rabbnya. Jika Allah berkenan lembutkan hatinya untuk ambil hidayah yang sudah tersedia, yah pasti nyangkut. Kalo tidak, eh bukan tidak, mungkin belum. Mungkin tersentuhnya dengan cara lain.

Memang tak seorang manusiapun sempurna. Tapi bukan berarti kalimat truistik itu jadi alasan kita untuk enggan memperbaiki diri kan ya :) *ah ini sebetulnya ditujukan untuk saya sendiri juga, note to myself :D* Well. Kalau sudah dalam kondisi seperti itu. Saya pasrah sajalah. As people said, life is truly a choice. You decide what to do, and face the risk of what you have done :)
Anyway, melalui tulisan ini saya juga pengen ngasi tau kalo saya senang sekali kalo diingatkan. Sekali lagi, DIINGATKAN ya, bukan DISINDIR hehehe. Kan lebih enak kalo kita saling mengingatkan ya daripada saling sindir, sama-sama senang. Oh, dan jangan lupa *ngingetin lagi deh hehe* QS Asy Syams 8-10: Allah mengilhamkan suka kebaikan dan ketakwaan. Beruntung bagi yang mensucikannya. Merugi bagi yang mengotorinya. Wallahualam.
Read More

Tuesday, September 27, 2011

Menertawakan Masa Lalu

Photo taken by: Rizki Fakhrurrazi

Slamat tinggaaal, masa lalu aku kan melangkaaah..


Ah, pasti tak asing ya dengan lirik lagunya 5minutes itu. Termasuk salah satu lirik lagu paling oke yang saya suka tuh. Kebetulan *ini kata manusia, kalau kata Allah sih tak ada yang kebetulan even only a leaf falls from a tree :)* beberapa hari lalu, dari distro sebelah, diputerin lagu ini. Duh, jadilah saya senyum jumawa sendiri. Teringat beberapa kisah di waktu lalu, kisah yang layak diingat tentunya. Yang jelek-jelek, sudah lama saya buang jauhjauh. Saya ambil hikmahnya aja deh :)

Bicara masalalu lagi, sungguh klasik, basi, dan saya pun sudah pernah secara jelas dan tegas menuliskan apa itu masa lalu di blog ini. Sungguh aneh menemukan beberapa manusia yang bisabisanya terkungkung dengan masalalunya. Masih agak mending kali ya kalau terkungkung sama masalalu sendiri, nah kalo terkungkungnya sama masalalu orang lain, sungguh kaasiihaan deh lu.

Itulah yang membuat kita seringkali sulit maju. Masih suka sibuk dengan masa lalu orang lain. Sibuuuk bener. Saking sibuknya, sampai lupa bahwa yang punya masa lalu sudah tak sudi lagi bahas kisah purbakala yang telah lewat. Dan yang lebih kasihannya lagi, saking sibuknya dengan masa lalu orang lain, kita *ya, kita: saya dan temanteman, baik sadar ataupun tidak* seringkali tak mau tau perkembangan macam apa yang sudah dibuat oranglain saat ini, terlepas dari masa lalu yang mereka miliki. Miris ya.

Mau diutak atik dengan cara apapun, masa lalu pasti akan menjadi track record hidup kita. Takkan bisa kita hapuskan cerita masa lalu dari catatan sejarah hidup. Tapi, mari kita sepakati kalimat yang saya jadikan status facebook kemarin:

there's nothing on your bad memory you should take, but the lesson ;)

Kita pelajari sejarah, kita ungkit masa lalu, tak lebih dari sekedar untuk ambil hikmahnya saja kan? Yup, itulah sebabnya Allah ciptakan 3 rentang waktu: kemarin, sekarang, dan akan datang. Yesterday, now, and future. Simple past tense, simple present tense, dan future tense. Just like a friend said in a social media, that life is X + X + X. Yesterday is an X, Now is an X, and Future is also an X. Yesterday is eXperience, Now is eXperiment, and Future is eXpectation. So, use your experience in your experiment to achieve your expectation.

So, people. Why are you so worried of your own past? Just laugh on your bad memory in your past, take the lesson, coz we have future to mend it better ;)

Read More

Monday, September 26, 2011

Rezeki Allah tak terukur

Photo taken by: Ivvan Fardyan

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Alhamdulillaah saya masih bisa nulis lagi hari ini. Ah, sering sekali saya lupa bersyukur bahwa hari ini masih diberi nafas untuk mengukir sejarah baru, masih diberikan kenikmatan Islam yang tak tergantikan, terlebih lagi, masih diberikan nikmat iman yang tak semua manusia bisa rasakan. Sungguh, banyak betul kenikmatan dari Allah SWT yang sering kita lupakan. Terlupa karena kita terlalu sensitif dengan kekurangan yang ada pada diri kita sebagai manusia. Padahal, justru karena kekurangan itulah, maka kita disebut manusia, bukan malaikat.

Banyak sekali hal yang kita keluhkan, baik yang disadari dan yang tidak. Beberapa hari lalu, saya BBMan dengan teman sekelas saya waktu SMA. Saya berinisiatif untuk menyapa dia duluan, karena tiap liat recent updates yang dia buat, personal message-nya nyaris selalu mengeluh. Maka, ngobrollah kami. Saya sama sekali tidak memancing dia untuk mengeluarkan keluhannya ke saya. Berhubung dia ini adalah teman SMA, maka yang ditanyain ya halhal klasik seputar kehidupan, such as udah nikah ya? Iyeap, that's the first question I asked her after saying hello.

Orang yang sama-sama baru menikah, ya pertanyaan klasik berikutnya bisa ketebak donk ya hehe. Tinggal di mana sekarang, suami kerja apa, sudah hamil belum, bla bla bla bla. Ketika saya balik bertanya whether or not dia sudah hamil, dimulailah sesi pengeluaran uneg-uneg yang seringkali nongol di personal message BlackBerry-nya. Ternyata temen saya itu sakithati dengan omongan orang-orang di sekitarnya yang seringkali nanyain kenapa dia belum hamil. Saya pun jadi pengen tau, emang nikah udah berapa lama? Subhanallaah, ternyata sama dengan saya, Februari 2011.

Oke, saya mulai memposisikan diri sebagai dia. Mencoba memahami perasaan pengantin baru yang sudah menikah selama 7 bulan namun belum diamanahi Allah untuk hamil. Kecewa, sedih, cemburu melihat teman yang lebih lama nikah sudah hamil, pastilah perasaan seperti itu yang muncul dari hati. Perempuan normal mana sih yang ga pengen hamil setelah menikah dengan cara baikbaik dan halal? Baiklah, pasti itu yang temen saya rasakan. Menjadi semakin sakithati akibat omongan ga enak dari kiri kanan tentunya.

Saya pribadi pun sangat sering sekali ditanyai pertanyaan serupa. Sudah pernah saya bahas kan di postingan F.A.Q. beberapa pekan lalu? Yoih. Ingin sekali rasanya saya kasih jawaban: Alhamdulillaah, sudah. Tapi menurut Allah, kami berdua masih harus terus ikhtiar maksimal dulu sampai layak menjadi orang tua untuk anak-anak yang kami idamkan. Maka, belumlah Allah katakan 'kun' untuk pertemukan sel telur dan sperma dalam rahim saya. Toh, rezeki takkan tertukar. Kalau sudah waktunya wanita hamil, baik hamil yang halal maupun yang haram, maka hamillah seorang wanita.

Jika saja teman saya itu bertanya, pernahkah saya mendengar atau mendapat perlakuan miring dari orang lain perihal belum hamilnya saya? Alhamdulillah, TIDAK PERNAH. Atau setidaknya, tak saya anggap miring. Karena rasa-rasanya, tak ada guna memusingkan omongan atau perlakuan orang lain yang tak mengenakkan ke diri kita, kecuali kalau sudah sangat mengganggu kehidupan pribadi. Yang remeh temeh begitu anggap sajalah angin lalu. Kalikan nol, abis deh dia.

Nah, dari situ, sebetulnya kita bisa membuat check list untuk disyukuri setiap hari. Walaupun takkan pernah sanggup kita menghitung nikmat dari Allah, seperti firmanNya:

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.s. an-Nahl: 18).


tetap wajib toh kita bersyukur setiap hari? Maka bersyukurlah sekarang ini kita sudah menikah. Di usia yang relatif muda ini diberikan kelancaran menggenapkan setengah dien. Ketika beberapa teman kita di luar sana masih ada yang sibuk rampungkan studi, Allah berikan kelapangan untuk kita selesai lebih dulu. Saat di luar sana beberapa wanita sudah ingin betul menikah karena usianya sudah matang, Allah belum jua berikan jodoh untuknya. Atau, ketika setelah menikah masih ada beberapa pasangan yang belum bisa hidup berdua saja di rumah sendiri, Allah mampukan kita untuk itu.

Yang paling penting untuk disyukuri adalah: di balik belum hamilnya wanita yang sudah menikah secara sah, kita wajib bersyukur kepada Allah bahwa kita menikah tidak dalam kondisi hamil. Kasian anaknya euy kalo lahir dengan status hamil karena zina. Menurut para ulama, anak hasil zina tidak mendapatkan hak waris dan perwalian. Sehingga, kalo anak yang lahir perempuan, bapak kandungnya tak berhak menjadi walinya ketika menikah. Baca di sini ya :)

Ah, there are just too many things to be thankful. Terlalu banyak untuk saya tuliskan satu per satu di blog ini. So, kalau sampai hari ini masih juga merasa risau hati dengan hal-hal yang belum Allah beri, cobalah buat checklist untuk disyukuri setiap hari. Makin sering bersyukur, makin ditambah Allah nikmatnya. Itu janji Allah loooh:

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Q.s. Ibrahim: 7)

Last but not least, postingan ini saya persembahkan untuk teman-teman yang sedang menanti kehadiran penghuni baru dalam rumah tangga yang baru terbina, atau bahkan yang sudah bertahuntahun lamanya. Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria pun bernasib serupa, mereka dikaruniai keturunan oleh Allah ketika usia mereka telah lanjut. Juga Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, orang yang paling dicintai Rasulullah, bukankah beliaupun tidak memiliki keturunan? Tetap bersabar sambil berikhtiar yaaa.. Insya Allah, sebentar lagi :)
Read More

Friday, September 23, 2011

Cinta tanpa batas

Photo by: Ivvan Fardyan

Kasih sayang orang tua itu limitless yah. Semakin saya sadari kebenaran kalimat tersebut setelah menikah. Teringat beberapa tahun lalu sebelum menikah, ibu saya seringkali mengingatkan: "Kita hidup bersama serumah kayak sekarang takkan selamanya. Akan ada waktunya nanti kakak tinggal dengan orang lain, entah dengan mertua atau hidup berdua dengan suami saja. Akan ada waktunya orang tua dipanggil Allah". Waktu itu, kalimat tersebut tak begitu saya anggap sebagai sesuatu yang berarti. Just let it uttered from my mother's mouth, came into my mind a while, then forgotten in minutes.

Tapi sekarang, ketika saya telah berada di posisi yang ibu saya katakan, saat masa hidup bersama orang tua usai sudah, kalimat tersebut sungguh sesuatu *halah, tersyahrini deh :p*. Sangat terasa berbeda hari-hari yang saya lewati tanpa melihat wajah mereka setiap hari. Apalagi, saya memang belum pernah hidup jauh dari orang tua. Perpisahan saya dan orang tua setelah menikah benarbenar menyisakan air mata. Air mata saya, air mata bapak, dan juga air mata ibu *sounds like judul sinetron jaman dulu ihihi*.

Dengan alasan cinta kasih dari orang tua yang tak terbatas itulah, dari sejak saya lulus SD sampai dengan memutuskan untuk menikah, kedua orang tua saya memberikan kebebasan seluasluasnya pada saya dan adik2 saya untuk memilih di mana kami akan sekolah, ekstra kurikuler apa yang akan kami ikuti, dan yang terbaru: kapan saya ingin menikah. Tentunya, kebebasan yang disertai dengan pertimbangan dari mereka. Untuk menikah misalnya. Saya sudah ingin menikah itu dari sejak lama *walaupun masang targetnya pengen nikah di usia 23 sih*, namun kedua orang tua saya ingin saya selesai kuliah dulu, barulah menikah. Well, we deal for that.

Untuk pilihan sekolah, kampus, pekerjaan, we are free choosing based on our own interest. Saya memilih MTsN 1, MAN 2, FKIP Bahasa Inggris Untan, menjadi penyiar Radio Volare, mengajar di sana di situ di sono dan di manamana, terserah asalkan tidak merugikan diri saya. Adik saya setuju untuk sekolah di MTsN 1, MAN 1, FKIP Bahasa Inggris Untan, ikut MTQ bidang fahmil Qur'an, sampai menghabiskan waktunya di kamar main Play Station daripada wara wiri di luar juga terserah dia. Kami yang memilih, kami yang bertanggung jawab atas pilihan kami. Mereka selaku orang tua memberikan support terbaik yang mereka punya.

Dan ketika saya sudah menikah, kasih sayang mereka tak juga berkurang. Malah rasanya bertambah. Saya yang tinggal di kota berbeda dari mereka, setelah menikah pun masih 'dimanjakan'. Lumayan sering dikirimi ini itu. Kalau minta sesuatu, besoknya langsung dikirim. Kalau ibu saya menemukan sesuatu yang berkaitan dengan saya, misalnya ngeliat bros warna pink pas lagi belanja, langsung deh tuh dibeliin. Atau ketika Ramadhan kemarin, ngeliat caikue yang biasanya jadi menu rutin untuk saya buka puasa, mewek dah beliau. Ah emak.. Begitupun bapak saya. Sejak menikah, saya makin sering smsan dengan bapak. Ah bapak...

Memang benarlah lirik lagu tersebut:

Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia.


Kasih bapak juga donk tentunya :)

Countless thanks to my parents, and yours too :)
Read More

Thursday, September 22, 2011

Tutup aurat dimanamana


Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tulisan ini saya buat karena saya cukup sering melihat beberapa muslimah yang sudah diberi kemudahan oleh Allah untuk berjilbab, tapi dengan mudahnya memajang foto tanpa jilbab di ranah publik. Barangkali tanpa pikir panjang, mereka jadikan foto tanpa jilbab sebagai foto profil di facebook, display picture di BlackBerry Messenger, atau avatar di twitter. Kalaulah yang melihat hanya sesama muslimah, tentu tak mengapa. Maka sebagai sesama muslimah, saya merasa cukup kesal. Karena, sayang sekali rasanya kalau aurat yang seharusnya kita jaga untuk yang boleh melihat saja, kita pertontonkan kesana kemari :(

Kewajiban berjilbab sudah cukup sering dibahas dimanamana. Di internet, dijadikan kultwit, dibahas di talkshow di TV maupun radio, banyak. Temanteman muslimah tentulah sudah tau bahwa Allah sudah dengan tegas berfirman dalam QS Al Ahzab:59 serta An Nur: 31 tentang perintah menutup aurat. Juga pastilah sudah pernah mendengar atau membaca beberapa hadits Rasulullah SAW mengenai hal ini. Salah satunya berbunyi: Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul orang lain dan para wanita yang berpakaian tapi auratnya terlihat, yang berjalan melenggak-lenggok, sedangkan kepala mereka bagaikan punuk unta yang miring. Mereka itu tidak akan masuk ke dalam surga dan juga tidak akan mencium bau surga. Padahal, harum semerbak surga itu dapat dirasakan dari jarak yang begini dan begini.” [Muslim 6/168]

Di luar pembahasan syurga dan neraka yang adalah hak prerogatif Allah, alangkah baiknya jika sebagai muslimah, kita lakukan usaha maksimal untuk perintah Allah yang satu ini. Menutup aurat tak hanya ketika berpergian ke luar rumah atau ke kantor saja, tapi juga ketika akan melakukan interaksi sosial dengan rekan yang statusnya mahram (tidak boleh dinikahi). Baik interaksi di dunia nyata, juga interaksi di dunia maya.

Sayang sekali rasanya jika saat ini kita yang sudah dikenal sebagai muslimah berjilbab, kemudian pajang foto tanpa jilbab. Barangkali maksudnya pengen ikut berbagi ke temanteman sesama muslimah kecantikan kita ketika ga pake jilbab itu ya. Tapi percayalah, alangkah baiknya kalau memang niatnya begitu, dibagikan lewat room chat pribadi saja. Karena, sekali lagi, menutup aurat di hadapan mahram adalah perintah Allah. Kecuali, kalau temanteman sudah masuk dalam golongan muslimah yang tak wajib lagi menutup aurat, sebagaimana firman Allah:

"Dan perempuan-perempuan yang sudah putus haidhnya dan tidak ada harapan untuk kawin lagi, maka tidak berdosa baginya untuk melepas pakaiannya, asalkan tidak menampak-nampakkan perhiasannya. Tetapi kalau mereka menjaga diri akan lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui." (an-Nur: 60)

Demikianlah temanteman. Hargailah diri kita dengan niat karena perkara ini, Allah yang perintahkan. Semoga kedepannya, kita yang muslimah dan juga temanteman muslim bisa saling mengingatkan untuk hal penting lainnya yang mungkin masih kita anggap sepele. Watawwa shoubil haq :) Selamat berjilbab cantiiik :D
Read More

Tuesday, September 13, 2011

Orang dewasa belum tentu dewasa

Saya teringat pesan sebuah iklan rokok: tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Atau sebuah kalimat dalam wawancara yang saya simak sekilas: usia hanyalah sekedar angka. Begitulah. Tidak ada yang bisa menjamin semua orang dewasa bersifat dewasa. Adult doesn't mean mature. Sebagaimana seringkali juga kita saksikan di muka bumi, anak kecil masakini telah tumbuh 'dewasa' sebelum waktunya. Meskipun, yaah, kalimat barusan lebih sering bermakna negatif daripada positif.

Apa sebetulnya ciri-ciri seseorang bisa kita katakan dewasa? Beragam dan sangat relatif. Jika menurut saya seseorang yang hampir tiap menit ganti display picture dan personal message di BBM tidak dewasa, belum tentu menurut yang lain begitu. Atau, jika menurut suami saya terlalu banyak berkicau yang remeh temeh adalah hal yang tidak dewasa, belum tentu menurut saya begitu. Ah, memang agak sulit ketika kita harus menghakimi seseorang whether or not dia bersifat dewasa.

Anyway, saya rasa sebagian besar orang sependapat bahwa sifat dewasa itu diartikan sebagaimana paham waktu dan situasi dia harus berkata dan bertindak, untuk kemudian berani bertanggung jawab dengan segala ucapan dan perilakunya. Selain juga bertingkah laku sesuai dengan ucapannya, tentunya.

Bersifat dewasa, *kalau yang ini menurut saya ya hehe* berarti berani bersikap ksatria. Ketika merasa salah, ya akuilah bahwa ucapan atau perbuatan kita salah. Perkara oranglain bersedia memaafkan atau tidak, biarkanlah menjadi urusan hatinya dengan Sang Maha Pembolakbalik hati. Toh, mengutip Mario Teguh, setiap kesalahan bisa dimaafkan meskipun tidak semua kesalahan bebas dari tanggungjawab.

Bicara tentang maaf-maafan, di bulan Syawal ini memang sebaiknya tak elok mengingatingat perkara yang telah lalu, kecuali mengambil hikmahnya saja. Jika Allah saja Maha Pemaaf, masa siiih kita tak ingin menjadi lebih dewasa dengan 'mengadopsi' sifat Allah yang Pemaaf? ;)

Sebuah pertimbangan pula untuk memaafkan khilaf seseorang: Ketika muncul permintaan maaf, kadangkala tak sekedar sesali khilaf belaka, namun lebih karena utk hargai ukhuwah yang telah lama terjalin. Maka, jika pintu maaf belum terbuka, dan tak kau jumpakan aku untukmu lagi, jangan kau sesali setitik egomu ketika kau abaikan pinta maafku ;)

Setuju? Saya setujuuu. Meskipun saya sendiri, di usia 24 tahun ini, masih sedang menjajaki diri menuju tahap ideal tersebut. Marilah mari kita samasama berbenah sendiri, selagi hayat masih di kandung badan.
Read More

Now, or Never

Betapa drastisnya degradasi kualitas dan kuantitas menulis saya. Aje gileee. Saya sudah aktif ngeblog sejak saya SMA dengan url belomcukupumur *yang sekarang sudah saya hapus hehe*. Tenang, itu isinya tulisan-tulisan biasa kok. Sedikit pun tidak mengandung unsur berbahaya bagi anak di bawah usia. Asal muasal url itu adalah ketika salah seorang rekan senior di Radio Volare seringkali 'menjahili' saya dengan berkata: Ah, Dini belom cukup umur buat tau. Huahaha, sounds ngeri ya :p Anyway, waktu itu usia saya memang terhitung masih belia. Baru tamat SMP. Boleh deh dibilang belom cukup umur sama rekan senior bernama Aris Munandar itu :D

Nah, itulah asal muasal url blog lama tersebut. Beberapa tahun kemudian, saya buat blog ini dengan konten yang acakadul seperti sekarang. Tidak ada tema khusus dalam blog ini sebagaimana blog beberapa rekan lain. Ada yang khusus tentang masak, resep, IT, lifestyle, ah keren sekali. Blog saya, sejak awal kemunculannya memang ditujukan sebagai tempat mencurahkan ide dan rasa, menjadi tempat menguapnya emosi-emosi seorang Dini Haiti Zulfany. Meskipun saat ini, seperti yang diawal saya paparkan, kualitas dan kuantitas menulis saya jauuuuh menurun.

Lihat saja, di tahun 2007, ada 124 tulisan yang dengan pedenya saya publish. Meningkat sebanyak 9 postingan di 2008 menjadi 133 postingan. Di 2009, saat itu sepertinya saya mulai *sok* sibuk kuliah ya ahihihi, sehingga postingan menurun sebanyak 20 tulisan, sisa 113 postingan. Naaah, yang lebih *sok* sibuk itu di tahun 2010 dan tahun ini :(((( Parah benerrr, digabungkan pun hanya terkumpul 40 tulisan. 41 sama yang sekarang sedang saya ketik, huwaaaa drastis sekaleee.

Sungguh memalukan. Saya yang dulu semangat banget memprovokasi oranglain untuk rajin menulis di blog masing-masing, sekarang malah hilang dari peredaran dunia blog. Yang kayak gini pengen ikutan pesta blogger atau ikut kopdar komunitas blogger? Waduh, udah minder tingkat dewa deh saya sekarang. Maka dari itu, teman-teman sekalian. Demi mengembalikan produktivitas menulis saya, sekaligus mengembalikan fungsi blog ini sesuai fitrah, saya bertekad untuk akan rajin ngeblog lagi di masa yang akan datang. Duh, kayak lagi kampanye deh ya :p

Yoih mamen. Blogging, now or never. Now is the best time to have my wonderful blogging moment. Even with a bit different condition and atmosphere, I'll start writing something here, much or less, yang penting nulisss, yiiihaaa. Welcome back, Dinie :)
Read More

Tuesday, April 5, 2011

Air mata bapak

Wow, sudah lama sekali saya vakum menulis. Apa karena sudah menikah? Ah, ga usah cari-cari alasan deh dini. Dari dulu sejak sebelum menikah juga saya sering males nulis kok hehehehe. Yayaya baiklah. 'Malas' adalah alasan saya lama tak muncul di blog ini.

Anyway, sebagaimana yang saya janjikan di postingan saya sebelumnya, kali ini akan saya ceritakan pekan-pekan pertama kami menjalani rumah tangga. Karena ini saya yang nulis, maka saya hanya akan menuliskan yang saya rasakan. Sedangkan suami saya? Biarin aja dia nulis sendiri. Punya blog juga kok. *Ayooo ayooo mari kita nulis lagi pak Priana Ashri*

2 pekan setelah akad nikah dan walimah, saya dan suami masih di Pontianak. Kenapa di Pontianak? Salah 1 alasannya adalah karena sepekan setelah walimah, bapak dan ibu saya harus terbang ke Malang untuk ujian tesis mereka. Maka, kami pun temani 2 adik saya di Pontianak. Konsekuensinya, kami lebih banyak habiskan waktu dengan wisata kuliner. 2 pekan pertama belum ada masakan spesial yang saya sajikan untuk suami selain kopi radix setiap pagi. Oh, dan juga sepiring spaghetti.

Sepulangnya bapak dan ibu saya dari Malang, kami sudah siap pindah ke Sekadau, ke tempat di mana saat ini suami saya menjalankan usahanya. Nah, di sinilah atmosfir hati saya mulai berubah. Berubah jadi jauh lebih mellow. Belum ada gambaran sama sekali tanah baru yang akan saya pijak setiap hari nanti. Suasana seperti apa yang akan saya hadapi, juga belum tergambar dengan jelas tiap kali saya memikirkan akan pindah. Sedih, sangat amat sedih saat itu. Bercampur baur.

Sedih karena ini adalah pertama kalinya saya akan hidup jauh dari orang tua saya, adik-adik saya, para sahabat saya, semua yang saya cintai dan mencintai saya. Seneng juga iya, rasa syukur karena Allah menganugerahi saya dengan suami yang sabarnya luar biasa. Entahlah jadi apa saya sekarang kalau suami saya tak sesabar beliau. Jangan-jangan udah disuruh balik Pontianak. Kenapa eh kenapa?

Nah, hari pertama kami menuju Sekadau, keluarga saya ikut antar. Serumah ikut nganterin, ditambah tante saya dan 2 sepupu saya yang luculucu. Pulangnya, ya saya ditinggal donk. Di sini inilah momen yang amat sangat mengharukan bagi wanita yang baru 2 pekan menjadi istri, dan baru pertama kali injakkan kaki di tanah orang.

Ketika turun, keluar dari mobil, dada saya seperti akan meledak menahan tangis. Yang paling berat adalah menerima kenyataan harus pisah sama bapak. Begitupun bapak, paling berat pisah dengan anak-anaknya, apalagi pisah dengan saya yang satusatunya anak perempuannya. Ketika saya melambai, sedikitpun bapak tak kuasa menoleh. Ya, beliau tak mau saya melihatnya menahan air mata *ngetik sambil berkacakacaka hikzhikz*. Waktu itu, tidur siang pun saya masih bersimbah airmata. Bangun tidur, malah nangis lagi. My goodness. Betapa cengengnya ya.

Saya pikir, sehari itu saja saya akan semellow itu. Ternyata, besoknya lagi masih mewek. Malah kian menjadi karena bapak menelpon saya sambil nangis juga. Seumur hidup, rasanya baru kali itulah saya mendengar bapak nangisin saya. Saya yang *konon* sangat tegar ini, jadi ikut menangis juga, besok dan besoknya lagi. Sungguh terlalu. Terlalu mellow. Nah, bayangkanlah kalau suami saya tidak cukup sabar menghadapi kemellow-an saya. Allah memang Maha Adil kan ya...

Alhamdulillah, besoknya lagi saya sudah mulai berjalan di atas tanah. Kemarennya kan masih terbang-terbang gitu deh, belum benar-benar bisa menerima fakta dan realita bahwa saya telah tinggalkan Pontianak tercinta. Momen 'perpijakan kaki di atas tanah' itu kami gunakan untuk hunting barang guna ditempatkan di ruko tempat kami bernaung. Dan dimulailah episode-episode baru saya sebagai istri.

Nah, demikianlah kisah pindah kami setelah walimah. Untuk temanteman yang akan segera berumah tangga, baik dalam waktu dekat atau belum direncanakan, persiapkanlah mental dan batin sesiapsiapnya untuk menghadapi perubahan status dari anak menjadi istri atau suami. Apalagi kalau setelah nikah akan pisah kota dengan orang tua. Yeah, kecuali kalau memang sudah terbiasa, kemungkinan untuk mengalami cerita mellow kayak saya tentulah kecil hehehe.

Last but not least, thank you to read and stop by to my blog :)
Read More

© coba template, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena